photo

Oleh Evie Silfia Zubaidi


Suatu hari, Nabi Sulaiman sedang berjalan-jalan. Lalu beliau melihat seekor semut sedang berjalan sembari mengangkat sebutir kurma. Nabi Sulaiman pun terus mengamati semut tersebut. Kemudian beliau memanggil semut itu sembari bertanya, “Hai semut kecil, untuk apa kurma yang kau bawa itu?” Si semut menjawab, “Ini adalah kurma yang Allah berikan kepadaku sebagai makananku selama satu tahun,” demikian semut itu berkata dengan lugas.


Nabi Sulaiman kemudian mengambil sebuah botol dan berkata kepada si semut, “Wahai semut,  kemarilah! Masuklah ke dalam botol ini, aku akan memberimu satu butir kurma untuk makananmu selama satu tahun. Dan tahun depan, akan akan datang kembali untuk melihat keadaanmu.”


Si semut taat pada perintah Nabi Sulaiman, karena beliau adalah penguasa saat itu. Setahun berlalu. Sesuai janjinya, Nabi Sulaiman datang kembali untuk melihat keadaan si semut. Namun Nabi Sulaiman heran, karena melihat kurma yang ia berikan tidak banyak berkurang. Beliau pun bertanya kepada si semut, “Hai semut, mengapa engkau tidak menghabiskan kurmamu?” Kemudian si semut menyampaikan isi hatinya sebagai jawaban atas pertanyaan Nabi Sulaiman. 


“Wahai Nabi Allah ﷻ, mengapa kurma ini masih tersisa banyak, karena selama ini aku hanya mengisap airnya dan aku juga banyak berpuasa. Ya Nabi Allah ﷻ, selama ini Allah ﷻ lah yang memberiku sebutir kurma setiap tahun. Namun kali ini engkau yang  memberiku kurma. Aku takut tahun depan engkau tidak memberiku kurma lagi, karena engkau bukanlah Allah Al Malik yang Maha Memberi Rezeki,” jawab si semut.


***

Sebuah kisah hikmah yang sangat mengoyak kesadaran. Karena selama ini kepercayaan diri ini di atas rata-rata. Menganggap setiap yang telah dikerjakan karena Allah ﷻ. Dan menganggap semua harapan tersandar hanya kepada Allah ﷻ. Padahal sesungguhnya, semua yang  tampak baik dan benar itu baru sebatas perbincangan dan status di media sosial. Baru sebatas konsep seharusnya. Selebihnya belum terlaksana. Belum bertemu caranya. Sehingga belum bisa mengaplikasikannya.


Anakku, sangat lazim kata-kata kita ini muncul, “Kerjakan karena Allah ﷻ dan berharaplah kepada Allah ﷻ. Karana kalau kau berniat dan berharap karena Allah ﷻ, tidak akan ada yang mampu mengecewakanmu.” Nasihat bijak ini sesungguhnya tidaklah mudah sebagaimana diucapkan. Bahkan amatlah sulit. Mengapa? Karena kita terbiasa bekerja bukan untuk  Allah ﷻ. Maafkan bunda, karena begitulah yang sebenarnya.


Kalau kalian tengok, begitu banyak manusia-manusia pandai, yang  menghasilkan penemuan-penemuan dan karya-karya hebat yang memberi manfaat serta sumbangsih kepada banyak manusia. Atau mungkin kita, dalam keseharian berpeluh dengan segala macam kesibukan dan kerepotan, sibuk dan merasa penting. Namun sayangnya yang terlihat baik dan bermanfaat itu bukan karena mencari ridho Allah ﷻ. Tapi hanya memenuhi kesenangan diri yang tak pernah ada habisnya.


Kalaupun ada pernyataan, semua jerih payah ini untuk keluarga, untuk anak-anak, untuk kehidupan yang lebih baik. Atau semua perjuangan ini untuk ummat, itu tidak lebih hanya bentuk dalih untuk melegalkan, bahwa bersibuk dan berjibaku dengan dunia itu adalah kepatutan. Karena sudah jamak manusia melakukan.


Keadaan itu sangat jelas digambarkan dalam Alquran, “Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya’.” (QS. Al-Kahfi (18): 103-104). 


Mereka telah bekerja keras dan bersusah payah, namun usaha mereka sia-sia disebabkan tidak terkait dengan iman dan keikhlasan. Karena tujuannya salah, yang disibukkan salah, maka pengharapannya pun salah. Berharap pada dunia adalah hal yang sangat biasa. Berharap pertolongan manusia sudah menjadi kelaziman. Sehingga terlupa yang paling inti dalam kehidupan, yakni meletakkan harapan kepada  Allah ﷻ. Bahwa tidak ada daya selain karena Allah ﷻ semata. 


Kita bisa bukan karena kita punya kemampuan anakku,  kita bisa bukan karena punya kepandaian. Bisa bukan pula karena kita mempunyai daya dari harta,  kedudukan dan pengaruh. Bukan. Bisa itu karena Allah ﷻ membuat itu bisa. Untuk memahamkan hal yang  sepertinya sederhana ini, ternyata perlu kerja keras. 


Sejujurnya, apapun pencapaian prestasi yang sudah dihasilkan selama ini, banyak yang mengaku itu karena kemampuan diri. Padahal bukan. Kita harus pandai membedakan ikhtiar dan ketetapan Allah ﷻ. Tugas kita hanyalah ikhtiar. Sedikit dan banyak yang kita upayakan, di situlah letak kita menggantungkan diri kepada Allah ﷻ. Itulah iman. 


Namun sekali lagi, untuk memahami iman ini ternyata perlu kerja keras. Perlu belajar yang sangat lama dan tidak pernah ada tamatnya. Sampai kita tahu, bahwa kita ternyata tidak bisa apa-apa kalau tidak Allah ﷻ beri kemampuan. Perlu berlatih terus menerus, sampai kita paham, bahwa kita bukan siapa-siapa sampai Allah ﷻ memuliakan kita dengan apa yang Dia beri. Ternyata menemukan iman itu memerlukan kerja keras. 


Dalam sejarah, Imam Nawawi dan Imam Asy Syathibi, juga Imam Ahmad sangat luar biasa menjaga keikhlasan atas apa yang beliau kerjakan. Beliau bertiga tawaf keliling Kakbah sembari membawa kitab karangannya dan berdoa ratusan kali untuk mendapatkan ridho Allah ﷻ atas upayanya. Bahkan kata Imam Syathibi dalam karangannya “Al-Qira’at Assab’u” ia ribuan kali memikirkan keikhlasannya atas apa yang ia kerjakan. Begitulah para alim mengawali pekerjaannya.  Mereka sangat teliti menelisik hatinya, agar apa yang diupayakan semata karena Allah ﷻ, bukan yang lain.


Lalu bagaimana dengan kita anakku? Ternyata kita masih harus belajar keras untuk bisa ikhlas. Seperti yang pernah dikatakan oleh Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah, “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi penuh kantongnya dengan kerikil kecil. Memberatkanya tapi tidak bermanfaat sama sekali.”


Seperti kisah semut di atas, yang berkata kepada Nabi Sulaiman, “Ya Nabi Allah ﷻ, selama ini Allah ﷻ lah yang memberiku sebutir kurma setiap tahun. Namun kali ini engkau yang memberiku kurma. Aku takut tahun depan engkau tidak memberiku kurma lagi, karena engkau bukanlah Allah Al Malik yang Maha Memberi Rezeki.”  Ternyata untuk percaya, kita perlu kerja keras, anakku.


Wallahu A'lam Bisshowab.



Bagikan ke Teman