photo

Pentingnya Ikhlas Dalam Beramal dan Beribadah

Implementasi sikap Ikhlas haruslah didasari dengan niat dan tujuan yang bersih. Seperti selembar kertas putih yang tidak tergores tinta atau benda lain yang dapat mengotorinya.

Ikhlas adalah pembersihan hati dalam beribadah kepada Allah. Ikhlas merupakan implementasi kewajiban manusia dalam beribadah kepada Allah dengan cara membersihkan hati untuk tidak melakukan sesuatu yang dilarang oleh Allah.

Suatu perbuatan bisa dikatakan ikhlas apabila dilakukan hanya semata-mata karena Allah. Tidak boleh dicampuri oleh perbuatan-perbuatan yang bisa mengotori isi hati, seperti dengki, riya atau sifat-sifat tercela lainnya.

Seseorang yang melakukan ibadah shalat tanpa didasari dengan rasa ikhlas dan niat yang suci, maka yang ada hanya perbuatan sia-sia. Tidak ada nilai pahala di dalamnya. Sebab Ilmu syariat haruslah dilakukan bersamaan dengan ilmu hakikat.

Atau melakukan sedekah tanpa didasari niat dan hati yang ikhlas, maka yang ada hanya sebatas perbuatan saja. Ketika seseorang melakukan sedekah dengan didasari ilmu hakikat maka ibadah sedekah tersebut bisa menjadi mudah. Karena segala sesuatu datangnya dari Allah dan akan kembali kepada Allah.

Kita harus bersikap ikhlas dalam melakukan setiap amal perbuatan. Karena ikhlas adalah perintah Allah. Allah SWT berfirman dalam QS Al-Bayyinah: 5: “Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan (memurnikan) ketaatan semata-mata untuk-Nya dalam menjalankan agama yang lurus.” Allah SWT juga berfirman dalam QS Al-An’am: 162-163: “Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; Dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).”

Berbuat ikhlas merupakan kewajiban bagi umat Islam, terlepas dari urgensinya sebagai sesuatu yang harus dilakukan seorang hamba demi meningkatkan kualitas beribadah kepada Sang Pencipta dengan didasari niat yang murni serta hati yang tulus dalam beribadah kepada-Nya.

Sikap ikhlas, niat tulus kepada Allah, menjadi syarat dan dasar semua amal ibadah. Amal yang dilakukan dengan ikhlas pasti akan mendapat ridha dan balasan dari Allah dan sekaligus berdampak baik bagi diri dan lingkungan sosilanya.

Sebaliknya, amal yang tidak ikhlas atau pamer mengharap pujian orang lain, meski bisa berdampak baik bagi orang lain, tetapi akan berdampak buruk bagi diri sendiri dan tidak memperoleh ridha Allah. Setiap amal yang diterima Allah adalah amal yang dilaksanakan berdasarkan kebenaran dan keikhlasan.

Orang ikhlas akan merasa senang apabila melihat orang lain lebih baik, lebih pandai, lebih mulia akhlaknya dalam beramal. Bukan sebaliknya, iri dan dengki melihat kesuksesan yang dicapai orang lain.

Tentu tidak mudah mencapai derajat keilkhlasan yang sempurna dalam seluruh amal perbuatan, tetapi setiap orang harus melatih diri dan berusaha mencapai keikhlasan itu. Melatihkan diri dalam balutan keikhlasan merupakan sikapyang sangat diperlukan dalam memperbaiki kehidupan manusia yang sebenarnya. Sifat ikhlas dapat mengikis sikap hipokrit (kemunafikan) yang sering kali menjadi sumber petaka dalam hidup berorganisasi dan bermasyarakat.

Semoga Allah menjadikan diri kita sebagai diri yang ikhlas dalam segala hal. Amin.

 


Bagikan ke Teman





Rekomendasi Artikel