photo

Ada banyak keutamaan bersholawat. Keutamaan yang satu ini, sangat disenangi oleh para pencinta nabi ﷺ. Yaitu, menghadapnya kita kepada ruh nabi ﷺ setiap kita membaca shalawat.

Kalau orang-orang shalih yang meninggal dunia saja, ruhnya dinyatakan hidup dan bisa menyaksikan orang-orang yang hidup di dunia, apalagi para nabi. Apalagi Rasulullah ﷺ.

Rasulullah ﷺ mendapatkan tempat utama. Mendapat jalur istimewa, menjumpai ruh ummatnya. Dalam mimpi. Dan juga saat menerima shalawat dari ummatnya.

Beliau juga bersabda, “Tidaklah seseorang yang mengucapkan salam kepadaku, kecuali Allah akan mengembalikan ruhku sehingga aku bisa menjawab salam tersebut.” (HR. Abu Daud).

Ini dikuatkan oleh hadits Rasulullah ﷺ yang lain, “(Arwah) para nabi itu hidup di dalam kubur mereka, mereka itu shalat.” (HR. Al-Bazzar).

Bagaimana keadaan nabi ﷺ saat dikembalikan ruh beliau, ini adalah perkara ghaib. Terutama dalam mekanisme alam ruh. Kita tidak mengetahuinya. Allah ta'la  berfirman,  “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah, ‘Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit’.” (Al Ahzab: 58).

Agar tak menjadi polemik yang kemudian mengaburkan esensi, maka makna menghadapnya kita dengan Rasulullah ﷺ, kita kembalikan saja kepada pemahaman bahwa itu diluar jangkauan akal kita. Allah ta’ala lebih tahu, tanpa kita harus melogikakan tentang bagaimananya.

Yang pasti, kita yakin dengan kabar gembira dari Rasulullah ﷺ tersebut. Bahwa kalau kita tiap pagi membiasakan membaca shalawat. Berarti kita adalah orang yang pagi harinya senantiasa "berjumpa" dengan Rasulullah ﷺ.

Kita yang hidup di waktu setelah Rasulullah ﷺ wafat, sangat merindukan perjumpaan dengan Rasulullah ﷺ. Perjumpaan di dunia, bisa terjadi melalui mimpi. Karena bermimpi berjumpa dengan Rasulullah ﷺ, adalah perjumpaan sesungguhnya. Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa melihatku dalam mimpi, maka sungguh ia telah melihatku secara benar. Sesungguhnya setan tidak bisa menyerupai bentukku. Barangsiapa yang berdusta atasku secara sengaja maka ia telah mengambil tempat duduk dalam neraka.” (HR Bukhari dan Muslim).

Istimewa sekali seseorang yang Rasulullah ﷺ berkenan menjumpainya di alam mimpi. Setidaknya ia berada dalam dua keadaan. Pertama, karena ia adalah orang sholeh. Yang keshalihannya membuat ia istiqamah menjalankan sunnah nabi ﷺ. Senantiasa bersholawat kepada nabi ﷺ. Dan tentu saja sangat cinta dan merindukan nabi ﷺ. Keadaannya itu, membuat Rasulullah ﷺ berkenan hadir kepadanya dalam mimpi. Sebagai obat kerinduan bagi mereka. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Umatku yang amat sangat mencintaiku adalah manusia yang datang setelahku, salah seorang mereka berkeinginan seandainya ia dapat melihatku meskipun dengan (mengorbankan) keluarga dan hartanya.”

Sebagian lain dijumpai Rasulullah ﷺ dalam mimpinya bukan karena ia seorang yang shalih. Akan tetapi, melalui sebab mimpi berjumpa dengan Rasulullah ﷺ itulah, kelak akan menjadikan ia lebih baik. Ini mungkin tidak sebanyak kelompok pertama. Yang pasti, tidaklah nabi ﷺ hadir dalam mimpi kecuali ada manfaat yang akan diterima oleh pemilik mimpi tersebut.

Bagaimana dengan yang belum mendapat karunia mimpi bertemu Rasulullah ﷺ?

Perbanyaklah sholawat. Karena dalam bersholawat, ruh kita dan ruh Rasulullah ﷺ saling berhadapan. Bersholawatlah dengan keyakinan tersebut. Lakukanlah dengan khusyuk dan perasaan tawadhu. Karena tidaklah nabi ﷺ mengabarkan tentang dikembalikan ruhnya itu kecuali agar kita termotivasi dan berbahagia dengan sholawat.

Memang berbeda sekali dengan ketika seseorang dijumpai Rasulullah ﷺ dalam mimpi. Saat itu, kesadaran dzahir kita "mati", sehingga ruh kita tak terhijab untuk memperhatikan perjumpaan dengan ruh Rasulullah ﷺ. Sedangkan saat kita dalam kondisi sadar (tidak tidur) justru kesadaran dzahir inilah yang menghijab kita dari Rasulullah ﷺ. Namun tidak demikian dengan Rasulullah ﷺ sendiri. Atas izin Allah ﷻ, baginda Nabi ﷺ menjawab salam ummatnya yang bersholawat kepada beliau.

Dalam riwayat Sayyidina Abu Bakar, Rasulullah ﷺ bersabda, “Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku, karena Allah Ta’ala menugaskan seorang Malaikat dikuburku. Jika salah seorang dari umatku bershalawat kepadaku, maka Malaikat tersebut berkata, ‘Hai Muhammad, sesungguhnya fulan bi


Bagikan ke Teman