Cinque Terre

BANTU ADIK WAWA SEMBUH DARI PEMBENGKAKAN OTAK DAN RADANG PARU-PARU

“Bagaimanapun upah dari buruh dan ojek pangkalan harus cukup memenuhi kebutuhan keluarga dan terpenting biaya berobat bolak balik Wonogiri – Solo. Tapi, rasanya berat sekali.” Dwi Santoso, Ayah Muatul Walidah.

Muatul Walidah (4,5 th) divonis dokter ada pembengkakan otak dan radang paru-paru. Menginjak  usia 1,8 th Wawa (nama panggilan) mengalami panas tinggi dan kejang-kejang. Wawa sempat dibawa ke Puskesmas terdekat dan hanya diberi obat penurun panas biasa.

Tak kunjung mereda panasnya malah semakin parah. Ayah Wawa langsung membawa ke sebuah Rumah Sakit di Serang, Banten. Ketika itu ayah Wawa masih merantau ke Serang, mengadu nasib untuk perekonomiannya.

 Kini, Wawa dan keluarganya kembali ke Wonogiri. Selama 2 tahun lebih berjuang sembuh dengan jalani beberapa kali operasi  (mengeluarkan cairan otak yang menumpuk). Bahkan, sempat dipasang selang di bagian kepala belakang untuk mengurangi cairan. Namun, biaya yang mahal untuk sebulan perawatan tak mampu dibayarnya. Jalan satu-satunya menjual tanah yang Wawa tempati melunasi biaya Rumah Sakit.

“Kenapa lantainya dibuat permanent dengan keramik. Bukan dindingnya saja yang permanent?” Tanya saya.

“Alhamdulillah, sekarang Wawa sudah bisa berguling setelah operasi dulu. Jadi, lantainya saja yang permanent biar Wawa bisa berguling-guling dan tidak kotor.” Jawab ibu Inti (Ibu Wawa)

Habis sudah seluruh harta keluarga Wawa. Rumah dan sawah dijual. Kini, Wawa sekeluarga tinggal menumpang di tanah tetangga. Alhamdulillah, bantuan 3,5 juta dan tenaga warga Wawa bisa tinggal di rumah yang sederhana.

Terdiri hanya satu ruangan multifungsi. Tempat untuk menerima tamu, kamar tidur dan dapur semua menjadi satu. Lemari pakaian dari bambu sebagai pemisah ruangan utama dan dapur. Meski berlantai keramik, dinding rumah hanya terbuat dari triplek dan anyaman bambu.

Kata dokter Wawa masih ada harapan untuk sembuh normal. Butuh satu kali lagi operasi dan perawatan intensif selama sebulan. Rawat jalan dan obat selama kurang lebih 6 tahun. Biaya yang tidak sedikit untuk semua itu.

Bagaimana Ayah Wawa dan Ibu Inti berjuang sendiri menghadapi ini semua dengan penghasilan minim sebagai buruh dan ojek pangkalan?. Belum lagi anak pertama dan kedua tak ada biaya untuk mendaftar sekolah sampai saat ini."